Sunday, 21 August 2016 0 comments

Sampai Jumpa

Blog ini sudah jarang dibuka atau lebih tepatnya saya sudah tidak memakai blogspot. Saat ini saya sudah pindah alamat ke: athirahsfr.wordpress.com. :)


Saturday, 11 July 2015 0 comments

Pagi, Penduduk Bumi!

http://hdwallpapersfit.com/wp-content/uploads/2015/02/good-morning-wallpapers-flowers.jpg

Aku berterima kasih pada hari yang senantiasa datang bersama pagi
Pada sunyi yang berjanji riang di pagi buta
Pada mentari yang datang menyapa lagi, dan lagi
Pada air yang menyentuh bumi
Pada angin yang bersahaja menyimpan makna
Lagi, pada angin subuh yang menggigit tubuh kami
Nanti, pada angin yang melayangkan doa rahasia
Pada awan yang 'masih' saja menggantung asa

Berjanjilah, Alam
Biarlah kami memohon sejuk memeluk kami
Biarlah kami menyambut hari dengan pasti
Biarlah kami menghirup pelan nafas suci, pada kebaikan
Biarlah alas kaki kami menjadi bukti bisu, pada kefanaan

Lagi, berjanjilah
Biarlah kebenaran menjadi abadi, sampai nanti
0 comments

Hati yang (akan) Menyatu



Tanpa tahu, 
Bunga semula menutup, tegas membuka jari-jari lentiknya
Merekah, tanpa peduli makhluk lain mengadu acuh
Kokoh, menghias, menghambur suci demi abadi

Bukankah, keluarga berarti sama
Ikatan suci, berjanji untuk setia, tanpa peduli
Hidup di sela-sela sunyi, atau mati di sela-sela bunyi

Tanpa tahu, matahari bersaksi atas pertemuan kini
Menyapu asa yang terluka, lalu mengobati atas jiwa-jiwa yang pergi
Membungkusnya dengan pelangi, hingga suatu saat nanti
Awan membawanya pergi, bersumpah menghadap hujan
Yang satu hari, akan mengumbar pelangi

Langit juga telah berjanji,
Menaungi hati-hati yang telah menyerap duka, suka juga tawa
Tanpa tahu, tanpa tahu
Satu waktu, Dia menyatukan, kembali.
0 comments

SAYA (NOSTALGIA)


Akhirnya saya punya karya! Ya, sejak libur sekolah ini saya memikirkan bagaimana memanfaatkan libur menjadi produktif. Tapi ternyata setelah browsing di internet, akhirnya saya menemukan event lomba puisi nasional bertemakan keluarga. Wah, kesempatan emas! Tidak peduli mau menang ataupun kalah.

Sampai akhirnya saya menatap layar laptop dengan gamang. Bingung, mau menulis apa, lantaran tidak terlalu suka dengan tema itu. Ya, saya ini terlahir dari keluarga yang tidak utuh. Dari kecil saya hanya merasakan kasih sayang ibu. Bagaimana dengan ayah? Saya hanya tersenyum tipis, tidak mau banyak komentar. Saya bahkan merasa tidak pernah punya ayah. Saya hanya menganggapnya sebagai 'ayah' tetapi bukan ayah. Itu bukan tindakan durhaka, sama sekali. 

Saya tidak mau menulis banyak hal disini, takut itu rahasia keluarga, tidak boleh sembarangan menulisnya. Sejak kecil, saya seorang pendiam. Bahkan ketika TK saja, saya hanya mempunyai satu orang teman dekat, perempuan, sebut saja Suci namanya. Kami berteman sangat baik. Namun, dia jarang datang ke sekolah, tidak tahu apa penyebabnya, saya mengira dia sering sakit. Alhasil, saya duduk sendirian, tanpa teman. Ketika istirahat, saya hanya berdiri sambil menyender ke dinding dekat taman bermain. Saya kurang suka berbaur dengan banyak orang. 

Sedikit bercerita, ketika ada pesta ulang tahun teman TK, sebut saja Dinda. Saya diundang, begitupun Suci dan teman-teman lain. Waktu itu, saya bertanya ke Suci,

'Eh, Suci, datang nggak?'

'Hmm, aku nggak tahu, Cici ikut?' Dia malah bertanya balik.

'Aku ikut kalo kamu ikut! Aku nggak berani sendirian'
Dengan polosnya saya bilang begitu.

'Yaudah, aku ikut' 

Saya tersenyum pulas ketika dia bilang mau ikut. Kali ini, saya membatin, saya memang tidak bisa hidup tanpa dia. Sayangnya, ketika masuk sekolah Dasar, saya kehilangan jejaknya. Sampai sekarang pun, saya tidak tahu dimana keberadaannya. Mungkinkah dia telah meninggal, karena Tsunami ataukah masih hidup. Saya berjanji suatu saat saya akan mencarinya lagi. 

Di esde, kelas satu dan dua saya selalu masuk sepuluh besar, Alhamdulillah. Sejujurnya saya anak yang tekun, kenapa tidak, saya telah bisa membaca sebelum masuk TK. Buku-buku cerita mini telah saya lahap sebelumnya. Saya sangat suka belajar apapun. Namun, sejak naik ke kelas tiga esde, saya mulai tidak memperdulikan sekolah lagi, belajar saya tinggalkan, buku saya lupakan. Saya tidak suka membaca lagi juga tidak pernah mendapatkan sepuluh besar. Masalah keluarga lagi penyebabnya, orang tua makin sering berdebat.  Saya pun tidak tahu harus bagaimana, begitupun kakak-kakak saya. 

Hingga akhirnya, kami semua bersepakat membujuk Ibu agar berpisah dengan Ayah. Tepat tiga tahun yang lalu, mereka akhirnya berpisah. Ibu dan saya pun memutuskan untuk pindah menyusuli kedua saudara saya di luar. Begitulah, people change, so does life.

Ohya, saya lupa, tentang puisi yang akan saya kirim itu tentu saja tentang keluarga, akan tetapi lebih diubah sedikit sesuai dengan keadaan kebanyakan keluarga utuh. Tidak terlalu spesial memang, tetapi bagi saya puisi ini lebih mengajari saya untuk memahami arti keluarga yang sebenarnya nanti ketika saya berkeluarga. 

Dugaan saya puisi itu tidak mungkin masuk antologi. Namun, takdir berucap lain, Alhamdulillah puisinya masuk antologi, walau masuk urutan ke duapuluh lima dari duaratus, tapi itu sudah lumayan bagi penulis pemula. (Yaajadeh)




Saturday, 13 June 2015 0 comments

The Last Goodbye





I saw the light fade from the sky
On the wind I heard a sigh
As the snowflakes cover
My fallen brothers
I will say this last goodbye

Night is now falling
So ends this day
The road is now calling
And I must away

Over hill and under tree
Through lands where never light has shone
By silver streams that run down to the sea

Under cloud, beneath the stars
Over snow and winter's morn
I turn at last to paths that lead home

And though where the road then takes me,
I cannot tell
We came all this way
But now comes the day
To bid you farewell

Many places I have been
Many sorrows I have seen
But I don't regret
Nor will I forget
All who took that road with me

Night is now falling
So ends this day
The road is now calling
And I must away

Over hill, and under tree
Through lands where never light has shone
By silver streams that run down to the sea

To these memories I will hold
With your blessing I will go
To turn at last to paths that lead home

And though where the road then takes me,
I cannot tell
We came all this way
But now comes the day
To bid you farewell

I bid you all a very fond farewell 
(The Hobbit: The Battle of The Five Armies)
Friday, 12 June 2015 0 comments

Dengarkan angin yang berbisik lembut itu, wahai Kawan!

Beberapa hari yang lalu, saya mendengar percakapan sebagian my dear sisters in Islam, kira-kira begini:

A: Aku tuh nggak suka pake rok, baju gamis-lah atau sejenis gitu, aku itu tomboy, nggak suka style yang terlalu cewek! 

B: Iya yah, aku juga kurang suka, nggak bebas banget jadinya, mau kemana-mana juga susah, berasa kita harus jadi kalem, dan aku mah nggak gitu orangnya. Banyak banget batasannya .. Aneh banget jadinya

C: Aku lebih suka pakai celana begini, bebas kalau mau kemana-mana, dan yang pastinya nggak terlalu kecewe-cewe-an banget.. Terus kaya ibu-ibu udah tua yaa..

Dan saya yang sedang mendengar percakapan itu di sebalik layar hanya tertawa geli dalam hati. Saya belum berani menyampaikannya secara langsung, takut mereka sakit hati. Saya hanya bisa berdoa supaya diberi petunjuk untuk saya dan my dear sisters in Islam.

Tapi singkatnya begini wahai pembaca yang budiman dan my dear sisters in Islam, coba pikirkan matang-matang sekali lagi, ayo kita bertafakur sejenak sendirian saja, jangan libatkan hawa nafsu syaitan, hanya kau dan Allah swt. Pikirkan sekali lagi, dengarkan angin yang berbisik lembut ke telinga masing-masing, bukankah, bukankah lebih terlihat elegan, anggun, dan terlihat perkasa jika kau mengenakan baju yang lebih longgar dan sesuai syariat, khimar yang menutupi dada dibandingkan baju dan celana ketat yang membaluti auratmu, ingat, bukan menutupi auratmu yang malahan lebih terlihat kecewe-cewe-an karena mengundang nafsu lelaki yang melihatmu? Astaghfirullah...

Ingatlah, sesungguhnya Allah swt telah berfirman dalam surah An-Nuur ayat 31:

“katakanlah kepada wanita yang beriman: Hendaklah mereka menahan pandangan mereka, dan memelihara kemaluan mereka dan janganlah mereka menampakkan perhiasan mereka kecuali yang biasa nampak dari mereka. Dan hendaklah mereka menutupkan kain tudung ke dada mereka dan janganlah menampakkan perhiasan mereka, kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara mereka, atau putera-putera saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka atau wanita-wanita islam atau budak-budak yang mereka miliki atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan terhadap wanita atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan, janganlah mereka memukulkan kaki mereka agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung”

Pernah diteliti oleh ahli kesehatan bahwasanya orang yang sering memakai celana ketat dan sejenisnya berdampak buruk bagi kesehatan yaitu salah satunya timbul jamur, keputihan, dan gatal-gatal juga pada organ kewanitaan. Makanya, ayo pelan-pelan kita mulai memakai pakaian muslimah yang betul-betul yang disyariatkan. Kalau bukan sekarang, kapan lagi? Mau menunggu dihijabin syari dulu, alias dikafanin?

Wallahu A'lam..









Thursday, 21 May 2015 0 comments

Reminder (for me)

I have done horrible things
And displeased Him
I have wronged my soul
Through all my sins.

And yet He lets me
Stay in this world
Giving me blessings
I don't even deserve.

Then how can someone
Not be grateful to Him,
The All-Merciful, Ar-Rahim?





(I just found it on Instagram)






Thursday, 23 April 2015 0 comments

Crossroads

                                       


Apa yang kucari sebenarnya?

Dahulu, seorang hamba tabah menegurku
Bertanya akan jalan persimpangan
Juga bilang kemanakah aku melangkah

Terdiam, layaknya tegangan kecil
Bibir kaku

Apa yang kucari sebenarnya?

Jam-jam melayang laju di atas awan
Dan aku masih terpaku dalam bimbang
Di suatu persimpangan jalan yang sulit kupilih

Apa yang kucari sebenarnya?

Mohon, tanyakan pada hati
Mohon, ketuk pintu pemilik kuasa


Mohon, beritahu aku

#Wa'asaaantakrahusyaiawwahuwakhairullakumWa'asaaantuhibbusyaiawwahuwasyarrullakumWallahuya'lamuwaantumlaata'lamuun


(HA)
Malam, 23 April 2015, di sela-sela jam kosong.


Wednesday, 18 March 2015 0 comments

Tuhan, aku hanya takut-bermimpi.

Juli nanti saya genap berusia 18 tahun. Entah apa yang saya lakukan sepanjang umur itu. Saya merasa hina kali ini. Orangtua yang belum maksimal saya bahagiakan. Dan pada waktu sekarang, saat ini, saat purnama menyentuh bumi. Saya merasakan hal ini; 

Kaki yang terus mendesak pergi, tanpa tahu kemana arah langkahnya;

Mata yang terus dikhianati, tanpa tahu apa kejujuran yang dicari;

Begitu pula dengan hati, mulai memaksakan diisi, tanpa tahu penakluk yang dinanti;

Pun jantung yang terus berdegup kencang, tanpa tahu Apa maknanya

Tuhan, saya hanya. Takut. Bermimpi. Hanya. 

Ah, sudahlah. Saya percaya janji-janji Allah. 

Cukup. 

(HA)
Sunday, 11 January 2015 0 comments

Lucid Dream

Tubuhnya ringkih terhuyung, jatuh
alasannya satu, terlalu banyak bermimpi

bermimpi akan kebesaran
bermimpi akan hatinya dicuri

hanya ingin sepotong kenyataan, kata perempuan itu

Pilihan; menyalahi takdir,
murka langit; iblis tertawa

jalankan saja, matanya berbicara
lilin nyala jika ada api

langit telah berjanji
Saturday, 10 January 2015 0 comments

Catatan untuk hari ini





You need to find what you love to do,
and make people pay you for doing that.


0 comments

Hujan musim dingin

----Kami titipkan pesan kepada awan, harap-harap hujan membawa balasannya.

Kabar baiknya, delapan Januari kemarin hujan musim dingin membawa balasannya. Jawaban atas rindu kami.

Rindu kami terbalas.

Alhamdulillah 'ala kulli halin wa ni'matin, syukran wa jazakumullah khairan Kak Iyah dan keluarga yang sudah berkunjung kesini, walaupun sebentar, tidak sampai dua jam, setidaknya rindu kami terlepaskan.

Terima kasih telah menjadi potongan cerita indah dalam hidup kami, terima kasih telah membuat cerita indah dalam hati kami. Terima kasih, terima kasih telah menjadi bagian di dalamnya.


Friday, 15 August 2014 0 comments

.::Pasir, bukan matahari::.

Aku bukan bintang
diharap jemput

Aku bukan juga matahari
semburat sinar menemani

Aku hanya sebutir pasir
dianggap?
tersangkut di tapak pejalan
hilang terkapar di jalan

Untuk apa?
Alat banding;acuh
Penting, tidak.

Apa aku?
Dikata diam
Bicara, didengar tak

Oh, Tuhan
Aku apa?

Ya, barangkali pokok akan tumbuh
kelindan melingkup hati

Oh, diri
Sabar, terjawab
Pelangi akan hampir

Hanya, hujan mengawal
kalah lebih cepat

Ambilkan payung
Mereka datang
Benarlah...


(Cairo, pikiran buntu)
Wednesday, 18 June 2014 0 comments

Hikmah Yang Terjuntai

~QUOTE OF THE DAY~

 

"Hiburlah hatimu, siramilah ia dengan percik-percik hikmah.  Seperti halnya fisik, hati juga merasakan lelah."

(Ali Bin Abi Thalib)

Mari sini ku jelaskan.

Tahukah kau? Hati? Ya,  hati jika tidak dibasuh dengan hikmah,  sama seperti daun tua yang berubah kecoklatan. Kering. Layu. Lantas luruh dari pohon. Kau tidak bisa menduga bahwa daun itu jatuh ke tempat yang nyaman. Indah. Menjanjikan kebahagiaan. Bayangkan! Apabila saat itu angin menderu kencang,  lantas membawa daun itu jatuh ke lumpur hitam. Licak. Begitu pula hati manusia,  kalau kau tidak menjaganya. Memeluknya dengan hangat. Membasuhnya dengan hikmah. Lantas hati akan cepat layu. Beribu bakteri menyerangnya. Hitam. Kejahatan menemuimu. Akan tetapi,  jika kau bergegas mengambil embun yang menggelayut di daun.  Perlahan kau basuh hatimu. Wahai, saat itu langit seketika tersenyum. Sangat menyenangkan.  Kau izinkan kebaikan menemuimu. Tapi sebelum itu, kabar buruknya kau tidak tahu cara mendapatkan hikmah itu. Embun yang merekah. Mengkilat disembur cahaya. Indah sekali.  Sayangnya kau tidak tahu caranya. Padahal sangat sederhana.

Kau ingat tidak kitab yang diturunkan seribu empat ratus tahun yang lalu? Kitab yang terlampau suci,  memang hanya orang suci saja yang bisa menyentuhnya. Kitab yang dibuat oleh maha Penguasa-pemilik kerajaan langit-bumi. Kitab yang diturunkan kepada si manusia pilihan. Hei... dengarlah saat itu seluruh isi langit-bumi berseru-seru senang. Bahkan lebih dari itu. Sayangnya,  hanya kau tidak ingin mengetahuinya. Ataukah kau menolak untuk tahu? Kau terlampau lalai.

Sekarang kau sudah ingat? Kitab itu? Aku rasa belum.
Baiklah... kau mengetahui darimana saja kau mendapatkan hikmah?


...

 
Tidak pernah. Kau memang tidak pernah membuka hatimu. Menerima apa-apa telah terjadi padamu.

"Kau selalu menerima hikmah itu, sayang. Dari kehidupanmu. Masa lalu. Orang-orang yang mengisi kekosongan otakmu."


Bah! Kau hanya bisa melongo sok-tahu. Hei... tapi bukankah itu hanya seperseribu hikmah saja yang bisa kau ambil. Ya,  lantas kau harus mencari kemana, hikmah itu?

Ambil kitab suci yang telah kubilang tadi. Bukalah! Kau hanya disuruh membacanya. Pelajari!

Sekarang kau sudah tahu jawabannya. Baik.. Baiklah...

Masih belum.
 
Celaka! Kau benar-benar celaka. Kau baru saja sudah membuka hatimu. Sudah menerima. Sudah mulai memercikkan hikmah perlahan. Tapi kau bilang masih belum.

Mungkin memang susah menjelaskannya. Baiklah,  sepertinya aku harus menceritakan bagian rahasia ini. Hanya untukmu. Semoga kau menerimanya.

Kau tahu? Saat kau mulai membacanya,  penduduk langit,  para malaikat bergegas turun secepat mungkin. Mengalahkan kecepatan cahaya. Berebut untuk mendengarkanmu. Bukan itu saja. Mau tahu lagi? Saat itu malaikat juga berebut mencatat perbuatanmu. Sangat cepat. Gesit.

Astaga,  kau bersimpuh di hadapan-Nya.

"Ya Tuhan"

Sekarang kau telah mengetahuinya. Sudah selesai tugasku kalau begitu. Sebaiknya aku pergi.

Tunggu...

"Apa hikmahnya?"

Aku tidak bisa menjelaskannya lagi. Cukup sampai disini. Kau telah memahaminya. Cobalah buka hatimu. Bersihkanlah dia.

...

(Tersenyum) cari di kitab itu!

"Bagaimana dengan fisik?"


Entahlah. Itu diluar tugasku. Aku tidak bisa menjelaskannya,  karena kau telah mengetahuinya.

...


(Tersenyum) cari di kitab itu.


Cairo, 17 Juni 2014.

Hythara Afhrast.

Thursday, 29 May 2014 0 comments

Sajak Entahlah




Ah,  entahlah…
Inspirasiku hilang, pensilku patah.

Entahlah,
Aku bosan.  Aku bosan memikirkan hal yang tidak semestinya aku pikirkan.

Entahlah,
Hatiku buncah karenanya.

Entahlah,
Aku merasa diriku berubah.  Aku merasa satu sifatku hilang.

Entahlah,
Aku lelah dengan semua ini. Aku lelah dengan ketidakpastian, apapun.

Enam belas tahun aku menjalani hidup..
Entahlah,
Aku lelah menanggung semua ini.

Entahlah,
Kenapa perasaan ini selalu membuntutiku, apapun.  Aku ingin merenggutnya.

Ah, entahlah..
Tanganku patah, semangatku pudar.

Entahlah,
Aku selalu berpapasan dengan topeng.

Entahlah,
Aku semakin gila. Gila memikirkan semua ini. Gila memikirkan masa depan.

Entahlah,
Apa lebih baik aku mati saja?
Tidak menjamin aku bahagia.
Wednesday, 23 April 2014 0 comments

Tersesat

Burung-burung terbang memecah kesunyian
Langit semula biru menjadi gelap
awan-awan pun memanggil kabut
ia pun datang mendekat
menaburkan bintik-bintik hitam nan kelam

Suara gemuruh petir menyambar singgasana alam
lantas membuat hati makhluk bergetar keras
lalu langit tiba-tiba mengeluarkan air matanya, deras
Aku masih berdiri, kemudian berlari
aku berlari mencari tumpangan teduh


tetesan-tetesan air mata langit membasahi wajah kusamku
aku mengusapnya perlahan-lahan
kemudian aku berjalan, mengelilingi pustaka hayah.

Tak kusangka aku tersesat..
tersesat dalam bilik tak berpenghuni
bilik yang bisa melempar para pemimpi ke jurang abadi.



Lantas, kutunggulah sinar yang tak kunjung datang
sinar pembawa harmoni hidup
tapi tak ada gunanya jika aku menunggu
ku harus menjemputnya, bukan menunggunya
aku yakin Allah bersamaku.





Monday, 24 February 2014 0 comments

Heran

Ada keheranan sendiri mendengar suara itu, ibarat bulan yang meminjam cahaya matahari di malam, lalu mengembalikannya di petang. Setelah itu, Ya hilang seketika.
dan juga bagai kayu dengan sebilah pedang untuk menebasnya. Bagian pohon itu ditebasnya oleh manusia antah berantah, lalu pergilah dua makhluk itu entah kemana.

"Sungguh, kemanakah orang-orang dengan sekuntum mawar ditangannya? orang-orang yang menjanjikan kebaikan dulu? mereka diam, hilang tanpa jejak, sekadar menyapa pun tak."

"Aku heran, kemanakah sang pemimpi? aku tergugu melihat foto kenangan itu, foto di memori otak yang tak akan hilang, kalaupun hilang, dia bisa kembali lagi. Dia tak akan tersesat."

"Aku juga heran dengan kawan juang, mereka mengaku setia, tapi... Lihatlah!! Dia pergi tanpa pamit, kau lihat itu? Kaupun sama. Sama seperti mereka.



Tertanda,

Hythara Afhrast.
0 comments

Antara air terjun dan ikan salmon

Derasnya air terjun menghempas batu-batu coklat tua di sekelilingnya.
Ikan-ikan salmon bergerak dari bawah, sembunyi, bergerak lagi..
buih-buih oksigen makin meramaikan suasana.
Lantas salmon itu terbang kemudian meluncur.

Terkadang dalam hidup, aku lebih memilih menjadi ikan salmon daripada air terjun.
kenapa? sebab kecepatan ikan salmon mengalahkan kecepatan air terjun. Salmon mengejutkan semua orang. Salmon datang sekali-sekala, membuat penasaran semua makhluk. Dia datang tiba-tiba, meluncur setinggi-tingginya. Sedangkan derasnya air terjun akan memunculkan kebosanan tersendiri bagi yang melihatnya, air terjun itu tujuannya hanya kebawah, kadang ketika dia sampai di bawah, air itu bisa saja salah arus, yang seharusnya dia ke kanan, malah bergeser ke kiri.
Untukku, jangan pernah menjadi seperti air.


Salam,

Hythara Afhrast.
0 comments

Sebuah Harapan Untuk Sepotong Hati Yang Rapuh

Sebuah harapan..
tak terkendali lagi rasanya
Detik-detik masa berlalu
pohon-pohon waktu rontok satu persatu
bagaikan pohon yang gugur pada musimnya.

Hilang..
hilang seketika..
sajadah biru melentang panjang sampai ke kutub Utara.
matahari tak berhenti mengusap kulit.
panas..
tak tertahankan..

Sungguh, aku tak lebih dari sebuah awan..
awan hanya tersapu dengan angin kencang
awan yang bermimpi menjadi langit.
biru terbentang kuasa penuh
tak memikirkan siapa pun di bawahnya..
tapi tidak se egois itu bukan?

Terlentang menghadap ke langit..
berdiri di hadapan-Nya..
selayaknya aku harus hidup sampai sang pencipta memanggilku.
entah dengan panggilan suci atau panggilan terhitam, terpanas
seperti lahar panas yang keluar karena erupsi.
Lava yang mengguncang magma.

Aku terdiam..
tersipu malu sekejap..
kemudian pergi..
Awan biru ?


Cairo, tanggal tak diketahui.
Hythara Afhrast.
Friday, 17 January 2014 0 comments

Pemimpin Bunglon


Pemimpin-pemimpin mulai meninggalkan tanggung jawabnya,
kedisiplinan waktu tidak dijalankan,
kadang mesin-mesin tidak diperbaiki,
spion kiri kanan tak dilihatnya sedikit pun.

Hasilnya ya seperti minyak dan air, tak bersatu
tak bisa bekerjasama, beda pikiran, beda tujuan, segalanya beda.

Merekalah Pemimpin Bunglon
Pemimpin-pemimpin Bunglon lebih peduli dengan hal-hal yang tak bisa tercium harumnya sedikit pun, hanya bau amis yang bisa membuat otak berkudis.

Pemimpin-pemimpin bunglon lebih mempercayai seseorang yang mulutnya berbuih-buih mengeluarkan suara aneh tak bertuan, dia itu tak lebih dari seorang pendusta yang berpura-pura menjadi katak, bisa hidup di dua alam.

Entahlah, suatu saat, atau besok, lusa, minggu depan, bulan depan, tahun depan, pemimpin bunglon akan berubah menjadi ikan? bersatu dengan air? Kita tunggu saja~


Goresan Pena by: Athirah Safra
Cairo, 19 December 2013 Thursday, 08:52

 
;